Makanan Lezat Khas Thailand

Thailand merupakan salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang terkenal sebagai tujuan wisata. Hal tersebut tidak terlepas dari promosi wisata yang dilakukan oleh pemerintah setempat. Tidak hanya promosi terhadap obyek wisata dan seni budaya yang mereka miliki, tetapi juga terhadap aneka ragam kekayaan makanan.

Pada setiap lokasi wisata, hampir dapat ditemukan makanan-makanan khas negara tersebut. Bahkan, Thailand juga memiliki sentra-sentra pasar yang menjual jenis makanan tertentu. Dari perjalanan wisata di Pattaya-Rayong-Bangkok selama enam hari, 22-27 September lalu, banyak diperoleh pengetahuan baru mengenai keragaman makanan di negara tersebut.

Keragaman makanan tersebut tidak hanya tersaji di rumah makan mewah, tetapi juga di pasar-pasar kecil dan pedagang kaki lima. Di sebuah pasar yang berada di atas sungai di Pattaya, atau terkenal sebagai Pattaya Floating Market, banyak ditemukan makanan yang dijual di atas perahu kecil atau sampan. Sebut saja misalnya cumi asap seharga 30 hingga 35 bath per biji.

Apabila disesuaikan ke dalam rupiah, dengan asumsi satu bath sama dengan Rp 320, nilainya menjadi sekitar Rp 9.600 hingga Rp 11.200 per biji. Selain itu, terdapat pula coconut ice cream yang dijual seharga 10 hingga 15 bath. Es krim dari buah kelapa tersebut terasa manis dan menggigit.

Aneka ikan kering dalam berbagai olahan dapat diperoleh di Pasar Ban Phae yang terletak di Provinsi Rayong. Provinsi yang berada sekitar 70 kilometer barat daya Pattaya atau berjarak sekitar 190 kilometer dari Bangkok tersebut dapat ditempuh dengan perjalanan menggunakan bus sekitar 1,5 jam dari Pattaya.

Meski di pinggir pasar tradisional tersebut berderet aneka jenis ikan kering, kondisi pasar tetap terjaga kebersihannya. Bau amis yang biasanya muncul di pasar-pasar ikan tidak begitu terasa di sana.

Beberapa olahan ikan yang cukup khas di sana di antaranya keripik ikan berbumbu pedas dan manis serta gorengan ikan berbalut wijen. Kita bisa mencicipi keripik-keripik ikan terlebih dahulu sebelum membelinya apabila sanksi akan rasa makanan tersebut.

Harga keripik berbentuk persegi panjang tersebut sekitar 380 bath per kilogram atau sekitar 121.600 per kilogram. Meski demikian, kita perlu berhati-hati apabila ingin membawanya untuk oleh-oleh karena keripik tersebut mudah patah.

Kebun buah

Masih di Provinsi Rayong, kenikmatan makanan Thailand bisa diperoleh di Kebun Buah Supatthra atau Supatthra Land. Di kebun ini pengunjung bisa berkeliling menggunakan mobil bak terbuka yang menyerupai kereta setelah sebelumnya membeli tiket.

Aneka jenis pohon buah dapat ditemukan di sepanjang perjalanan, mulai dari jambu, mangga, belimbing, nangka, buah naga, hingga durian. Di kebun juga terdapat pohon salak yang oleh masyarakat Thailand disebut sala. Meski demikian, sala Thailand memiliki bentuk yang lebih kecil dan lebih lonjong bila dibandingkan salak Indonesia. Sala Thailand hanya berisi satu biji dengan rasa sepet dan sedikit kecut.

Pengunjung bisa menikmati aneka buah-buahan tersebut secara gratis di lokasi yang disediakan. Lezatnya durian montong di kebun tersebut pasti akan selalu menarik pengunjung untuk kembali ke Supatthra Land. Kita juga bisa membeli buah-buahan tersebut untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

Satu hal yang tidak kalah menarik adalah keberadaan salad atau rujak pepaya di Supatthra Land. Masyarakat Thailand menamakan makanan itu Som Tum. Makanan tersebut terbuat dari parutan pepaya mentah dan wortel, ditumbuk kasar dengan bumbu cabe, tomat, dan kacang. Som Tum dikenal dengan rasa yang sangat pedas hingga bisa membuat bulu roma berdiri dan mulut gemetaran bagi yang tidak tahan menyantapnya.

Selain di kebun buah, aneka buah segar juga bisa diperoleh di Pasar Or-Tor-Kor atau pasar makanan di Bangkok. Selain buah-buahan, di sana juga tersedia aneka sayuran segar. Bahkan, ubi, kedelai, dan jagung rebus juga tersedia di pasar tersebut.

Satu jenis makanan yang menurut saya unik sempat ditemukan di Pasar Or-Tor-Kor. Makanan bernama alternatif Khao Yum atau alternatif salad Thailand tersebut berisi nasi tiga warna (kuning, coklat kemerahan, dan ungu). Nasi tersebut disajikan dengan aneka sayur dan buah segar, di antaranya taoge, wortel, jeruk bali, dan mangga muda dengan saus asam manis pedas dan campuran udang kering.

Menurut sang penjual, Su Aliyah (33), warna-warna pada makanan tersebut dihasilkan dari warna bunga. Agar menarik, alternatif Khao Yum dikemas dalam kardus dan dijual seharga 40 bath atau sekitar Rp 12.800 per kardus.

Kelezatan makanan Thailand tidak hanya terletak pada salad dan buah-buahan. Menu-menu istimewa dan menggugah selera dari hasil olahan chef-chef berpengalaman juga bisa diperoleh di negara tersebut, seperti saat disajikan demo masak di sebuah taman wisata Tamnanpar Banpae, Provinsi Rayong.

Demo tersebut menghadirkan chef dari Khamnan Paa, Provinsi Rayong. Beberapa menu yang disajikan berasal dari olahan daging bebek, ikan, dan mi, yaitu Roasted Duck, Stir Fried Rice Noodles, dan Pla Kra Pong Deep Fried with Fish Sauce. Dalam kesempatan tersebut juga disajikan aneka jajanan tradisional berwarna-warni, termasuk kue lapis yang banyak ditemukan di Indonesia.

Masih banyak lagi makanan di Thailand yang bisa menjadi pilihan bagi pengunjung. Apabila ingin mendapatkan makanan-makanan tradisional, Pasar Nong Mon di Bangkok bisa menjadi salah satu alternatif tempat berburu makanan tersebut. Di sana dijual aneka moci serta Khaolam (kue dari beras dicampur kacang merah) yang dimasukkan dalam bambu atau Khanom Chak (kue berbahan beras dicampur kelapa) yang dibungkus daun kelapa.

Seafood

Satu lagi lokasi kuliner seafood yang tidak kalah menarik, yaitu rumah makan Wang Mok di Ang Sila Area. Restoran tersebut terletak persis di samping Laut China Selatan di teluk Gulf of Sayam yang langsung berhubungan dengan laut Pattaya.

Di rumah makan tersebut, aneka seafood segar bisa dinikmati, mulai dari ikan, kepiting, rajungan, udang, hingga kerang. Rumah makan tersebut juga menyediakan pencuci mulut berupa mangga hijau yang rasanya sangat manis.

Sebagai salah satu bentuk promosi terhadap aneka makanan Thailand, pemerintah setempat mengadakan sebuah pesta kuliner dengan mengundang perwakilan-perwakilan negara asing. Akhir September lalu, Tourism Authority of Thailand, sebuah organisasi yang secara khusus bertanggung jawab terhadap promosi pariwisata di negara tersebut, menyelenggarakan pesta kuliner ”Amazing Taste of Thailand”.

Pesta yang digelar di halaman pusat perbelanjaan Central World Bangkok tersebut diikuti sekitar 400 peserta dari dalam dan luar negeri, mulai 22 hingga 27 September. Acara pembukaan dilaksanakan pada 25 September dengan menghadirkan sejumlah chef dari luar negeri, seperti Pak Michael Lam, pemilik dan koki dari restoran vegetarian Formosa di Hongkong.

Dalam kesempatan tersebut juga dipertunjukkan cara memasak mi Thailand atau terkenal dengan Pad Thai oleh Charles Burana Singka dari Blue Elephant Cooking School dan Restoran Bangkok.

Cara memasak Pad Thai sangat mudah, hanya menggunakan bumbu saus dan gula. Berbeda halnya dengan masakan mi Indonesia yang harus menggunakan aneka bumbu tradisional. Menurut Charles, Pad Thai yang terdiri dari campuran mi putih, taoge, tahu, dan ebi tersebut merupakan salah satu makanan favorit di Thailand. Untuk memperindah penampilan, makanan tersebut dihiasi dengan tiga udang goreng jeruk nipis dan kulit cabai merah.

Selain makanan siap saji, terdapat pula teh-teh khas Thailand yang dipercaya sangat baik untuk kesehatan, yaitu teh Emerald. Teh tersebut tidak hanya terbuat dari daun teh, tetapi juga ada yang dibuat dari daun ginseng.

Sayangnya, acara hari itu sempat terhambat dengan hujan deras yang mengguyur depan pusat perdagangan tersebut. Selain Pad Thai, saya hanya mencicipi puff (roti berisi daging tuna atau daging sapi dan ayam) serta rotte (makanan menyerupai martabak di Indonesia).

Di samping kelezatan-kelezatan yang disajikan, tidak setiap orang bisa menikmati makanan khas Thailand.

Bagi wisatawan yang tidak bersedia makan daging babi, perlu bertanya lebih teliti agar tidak salah dalam memilih makanan. Pasalnya, banyak masakan Thailand yang menggunakan bahan baku daging babi.

(Siwi Nurbiajanti)

Tinggalkan komentar

Filed under Wisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s