PDIP Dipersimpangan "Idealisme dan Kekuasaan"

Topik hangat yang banyak di bicarakan di media massa, apa yang akan diputuskan partai moncong putih ini betul-betul sebuah dilematis, bukannya saya partisipan, bukan pula ahli politik tapi saya mengamati apa yang dibicarakan oleh media masa memang benar adanya.

Apalagi ada-nya bursa Pencalonan Menteri Picu Gesekan Internal Partai (PDIP)’, membedah dan menganalisis ambisi sejumlah partai politik untuk mendapatkan jatah kursi kabinet. Ada elite parpol yang secara terang benderang menunjukkan inkonsistensi politik menggelikan. Suatu saat mulut mereka mengumumkan posisi oposisional, sementara mereka tidak mampu menutupi hasrat politik merasakan nikmat kekuasaan. Sebagai contoh, publik kini melemparkan sinisme menggetirkan kepada parpol seperti PDIP yang ‘mendua’ dalam sikap politik. Satu badan politik, dengan dua selera yang bertabrakan!

Pada edisi ini juga ditampilkan secara khusus pernyataan pers dua petinggi PDIP, Puan Maharani dan Pramono Anung, yang disebut-sebut dalam media massa beberapa waktu terakhir sebagai kandidat menteri. Memang ada pernyataan tegas Megawati Soekarnoputri yang menyayangkan keinginan segelintir elite PDIP untuk menyeberang ke kubu pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono demi mendapatkan kursi menteri. Namun, keberhasilan Taufiq Kiemas sebagai Ketua MPR dengan dukungan Partai Demokrat melemahkan ketegasan semacam itu.

Meski begitu, sesudah Partai Golkar menegaskan pilihan politik ‘tidak bisa’ menjadi oposisi alias memperbesar koalisi yang ada, sikap politik PDIP menjadi satu-satunya harapan politik munculnya pengimbang pemerintahan rezim SBY. Namun, sebelumnya kita menghadapi sebuah pertanyaan kecil ini. Apakah oposisi masih mungkin dilakukan terutama oleh PDIP manakala Taufiq Kiemas justru mendapatkan dukungan penuh Partai Demokrat saat merebut posisi Ketua MPR?

Akan kemana kah jalan yang di ambil PDIP ? Memang benar Presidensialisme yang melekat dalam pemerintahan SBY-Boediono menjelaskan kekuatan politik yang teramat kuat. Dukungan mayoritas parlemen sudah pasti akan menjadikan pemerintahan ini mempunyai keleluasaan mengeksekusi sekian banyak langkah politik pembangunan. Kendali ada di tangan rezim ini sedemikian rupa memperlihatkan keabsolutan kekuasaan yang tidak terbantahkan.

Jika berhadapan dengan kondisi politik ini, memang wajar muncul dilema yang terlampau berat untuk membangun oposisi politik. Meski demikian, menyerahkan proses pembangunan hanya pada kelompok politik koalisi pemerintahan bisa berujung pada kegagalan. Ketidakseimbangan politik (tanpa kontrol) merupakan abnormalitas politik dalam kerangka demokrasi. Kematangan politik pembangunan terutama yang merujuk pada kebutuhan konkret publik membutuhkan basis pemerintahan yang kuat. Ini tidak hanya datang dari koalisi yang besar, tetapi juga muncul dari keterbukaan pada hantaman oposisi politik.

Russell J Daton (2004) menegaskan salah satu sebab kegagalan pemerintahan kuat adalah erosi dukungan politik demokratik. Dukungan politik itu terutama mengacu pada keberanian melampaui interes privat dan kelompok politik demi pembelaan hak-hak publik. Pada bagian ini terutama yang mau disentuh adalah kerelaan menjadi bagian dari kontrol politik (oposisi). Dukungan politik mengalami pengeroposan akibat keintiman pekerja politik dengan kenikmatan kekuasaan.

Berhubung oposisi bukan bagian dari kultur dan sistem politik nasional, usaha membangun semacam habituasi oposisi politik adalah keniscayaan. Ambil contoh, PDIP sebenarnya sudah melakukan ‘pembiasaan’ politik untuk menjadi oposan terhadap pemerintah, tetapi kontinuitas proses amat berharga ini mulai mengalami kemacetan manakala sebagian elite membangun koalisi dengan partai pemerintah pada kesempatan lainnya. (sumber : media indonesia)

Apa benar ada oposisi yang tangguh untuk mengontrol pemerintah ? kita tunggu jawabannya.

1 Komentar

Filed under Hari Ini

One response to “PDIP Dipersimpangan "Idealisme dan Kekuasaan"

  1. gak ngerti politik kang den, but makasih dah sharing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s