Sensasi Makan Kerang di Sore Hari

Sudah pasti makan bukan hanya soal menghirup aroma sedap hidangan di atas meja. Makan adalah ritual, tidak melulu soal tata cara penghidangan, tetapi lebih penting dari itu mentransformasi eksotika alam ke dalam cita rasa.

Dari begitu banyak pilihan yang disediakan alam, Sulawesi Seafood Dermaga One di Pantai Carnaval, Ancol, memilih beragam varian kerang.

Sore itu matahari tenggelam terlalu dini sehingga petang tiba lebih cepat dari biasa. Angin mengantarkan aroma laut ke meja. Beberapa meja di restoran yang benar-benar bersisian dengan laut ini telah terisi. Bahkan sekelompok perempuan, mungkin teman sekantor, sibuk mengabadikan lanskap dengan kamera digital masing-masing. Tentu di meja mereka hidangan olahan isi laut terus mengalir. Sebuah cara menghabiskan sore yang sempurna.

Tak seperti restoran laut lain yang senantiasa mengeksplorasi berbagai jenis ikan. Dermaga One menyandarkan kekuatannya pada sajian 12 jenis kerang laut yang unik dan menarik.

”Di sini setidaknya ada 12 jenis kerang dan itu masih mungkin bertambah sesuai kemampuan pemasok mencari kerang yang unik,” tutur pengelola restoran, Nanang Solikin, Kamis (29/10).

Selain terdapat kerang yang sudah populer, seperti kerang dara, kerang hijau, dan kerang kipas, di restoran ini juga terdapat kerang salju, kerang madu, kerang tausi, kerang macan, kerang nenek, kerang bambu, kerang batik, dan kerang mutiara. Primadona dari seluruh kerang itu adalah kerang madu dan scallop atau kerang kampak.

”Kerang madu dan kampak sulit didapat karena itu harganya juga lumayan,” tutur Nanang. Kedua jenis kerang ini tidak dijual sesuai beratnya, tetapi dihitung per ekor. Kerang madu kukus bumbu bawang putih dijual Rp 13.000 per ekor, sedangkan kerang kampak bisa mencapai Rp 18.000 per ekor.

Purba

Kami sebenarnya hanya memesan kerang macan saus singapur, sup kelapa aneka makanan laut, dan kerang madu bawang putih. Tetapi, diam-diam Nanang menambahkan udang masak mentega-susu, kerapu saus mangga, dan gurami telur mentega. Jadilah di atas meja penuh dengan hidangan segar karena seluruh materi masakan sebelumnya dalam keadaan hidup.

”Kami menjual ikan, kepiting, dan kerang dalam keadaan hidup. Konsumen bisa memilih ikan atau kepiting mana yang mereka mau,” tutur Nanang, putra dari Surjadi Solikin, pemilik Dermaga One.

Memang kerang belum menjadi sajian utama di restoran ini, tetapi tak urung berjenis kerang yang disediakan dengan beragam olahan membuat tempat ini berbeda dari restoran lain. Apalagi kalau mengingat rasa kerang madu yang manis-manis, kenyal, dan gurih pasti Anda tak akan melewatkan sore dengan sia-sia.

Menu lain, kerang macan berbumbu saus singapur. Meski isi kerang sudah dikeluarkan, tetapi menu ini disajikan lengkap dengan cangkang kerangnya yang bermotif menyerupai belang-belang macan.

Saat menikmati daging aneka kerang yang kenyal itu kami seolah dilontarkan ke masa purba di mana kerang menjadi santapan utama untuk menyambung hidup. Bukti-bukti permukiman manusia purba di Gilimanuk, Jembrana, Bali, misalnya menunjukkan tumpukan cangkang kerang di sekitar fosil manusia. Para peneliti berpendapat saat itu manusia sudah menjadikan kerang sebagai santapan terlezat. Wow!

Kini setelah sekian abad terbentang, manusia masih menyantap makhluk purba ini dengan lahap. Bahkan setelah menyajikan 12 jenis kerang di restorannya, Nanang belum cukup puas. ”Saya ingin menyajikan kerang yang cangkangnya bisa dijadikan terompet, memang sulit. Dan saya yakin konsumennya pasti ada saja,” tuturnya.

Mitos

Kerang buat Nanang sesuatu yang unik dan eksotis. Pada masyarakat modern keunikan dan eksotika sering kali menjadi acuan sebuah penjelajahan baru. Memang, katanya, belum banyak konsumen yang tergila-gila pada kerang, tetapi restoran ini sudah bisa menghabiskan 5-7 kilogram kerang berbagai jenis saban hari. Artinya, memang ada penggemar makanan kerang. ”Apalagi ada mitos-mitos kerang dara, misalnya buat obat. Itu makin menggairahkan konsumen,” ujar Nanang.

Selain kerang, restoran ini sebenarnya juga menyajikan menu pembuka bersantp istimewa bernama Sup Kelapa Seafood Dermaga. Sup ini disajikan dalam sebutir kelapa muda lengkap dengan dagingnya. Rasanya memang mirip-mirip sup tom yam Thailand yang berkuah kental.

”Air kelapanya kami gunakan sebagai kuah, jadi rasanya ada manis bercampur rempah yang gurih,” ujar Nanang. Sajian sup ini berhasil membangkitkan selera makan kami. Apalagi seusai makan, daging kelapa bisa dijadikan menu penutup yang tak kalah dengan segelas es krim. (kompas.com)

Tinggalkan komentar

Filed under Wisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s