Launcing Gurita Cikeas Memakan Korban

Ramdhan Pohan menjadi korban pertama buku ‘Membongkar Gurita Cikeas’ karya George Junus Aditjondro. Meskipun George hanya menyebutnya sebagai ‘keplak’. Sementara Ramadhan langsung meminta visum ke RS Jakarta dan melaporkan peristiwa ini ke Polda Metro Jaya. Setelah itu informasi terus beredar, mengikuti langkah Ramadhan yang mencari visum dan akan melaporkan peristiwa ini ke Polda Metro Jaya.

Semua bermula dari kedatangan Ramadhan dalam acara peluncuran tersebut. Panitia – Petisi 28 – menyatakan bahwa Ramadhan tidak masuk dalam daftar undangan. Boni Hargens dari Petisi 28 bahkan mengatakan dia telah tertipu Ramadhan. ”Ketika datang dia mengaku sebagai utusan Andi Arif. Tapi ketika giliran bicara ternyata atas nama pribadi,” ujar dia.

‘Pemukulan’ terjadi ketika Ramadhan terus saja mengatakan George telah berhalusinasi mengenai aliran dana Bank Century kepada dirinya. Dia sama sekali tak menjawab pertanyaan George, apakah benar Jurnal Nasional – satu koran nasional yang pernah dipimpinnya – menerima dana Rp 150 miliar dari Sampoerna.

Ketika Ramadhan terus saja berceloteh bahwa dia dihina di kampung halamannya karena dianggap menerima aliran dana Bank Century, kesabaran George habis sudah. Dengan buku karyanya, dia menepis Ramadhan, melewati dua penanggap termasuk Boni.

”Saya keplak dia supaya dia berhenti bicara tidak benar,” kata George mengenai aksinya. Dia membantah tindakannya itu sebagai pemukulan. ”Saya ini orang tangan kanan. Kalau mau memukul dia, (saya pasti) pakai tangan kanan,” kilah dia.

Meski begitu, George mengaku bahwa dia memang terpancing emosi. Tiga kali berturut-turut, ujar dia, Ramadhan menyebutnya telah menipu dengan buku itu. ”(Saya tanya) betul atau tidak Sampoerna beri Rp 150 miliar ke korannya, selalu berputar-putar (jawabannya),” kecam dia.

George menyatakan keheranannya kenapa dia dalam tiga kali kesempatan berturut-turut harus berhadapan dengan Ramadhan. Dua kali sebelumnya adalah dalam acara di TVOne. ”Yang dia katakan halusinasi saya itu halusinasi dia,” ujar George. Ramadhan memang terus menyebut George berhalusinasi mengenai aliran dana kepada dirinya.

Padahal, kata George, di bukunya tak pernah disebutkan adanya aliran dana Bank Century kepada Ramadhan Pohan. Yang ada, sebut George, bukunya mengupas adanya uang Rp 150 miliar dari Sampoerna untuk Jurnal Nasional. ”Ada psikologis di sini. Dulu menerima dana dari Sampoerna dianggap tak kotor. Tapi setelah ada kaitan Budi Sampoerna dengan Bank Century, seolah jadi kotor,” ujar dia.

Dengan tiga kali kesempatan harus berhadapan dengan Ramadhan – dengan jawaban yang sama untuk pertanyaan serupa – membuat George berprasangka. ”Dengan tiga kali ini, jangan-jangan ini skenario untuk memancing emosi saya. Supaya isu buku ini dialihkan ke isu pemukulan,” sebut dia.

Adhi Massardi – dari Petisi 28 – langsung menyatakan siap bersaksi bahwa insiden yang terjadi bukanlah pemukulan. Sementara Boni juga mengatakan kalaupun itu disebut pukulan, tidaklah keras dan mungkin bahkan tidak kena langsung. Karena, kata Boni, tepisan buku George itu sempat mengenai pundak kiri Boni terlebih dahulu.

”George hanya menepis buku ke Ramadhan untuk menghentikan pembicaraannya yang menyebut George berhalusinasi,” tegas Boni. Dia bahkan berkeyakinan Ramadhan hanya mencari sensasi. Karena, ujar dia, topik yang diungkit Ramadhan bukan inti (core, red) pembicaraan. ”Ramadhan tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya,” imbuh dia.

Anggota petisi 28, Haris Rusli, yang juga menjadi moderator ketika insiden terjadi, menyatakan mereka telah menggandeng 28 pengacara muda untuk membela George. ”Kami sebagai penyelenggara, bertanggung jawab atas kejadian ini. Kami membentuk 28 pengacara untuk membela George,” tegas dia.

Haris pun menegaskan bahwa panitia tak pernah mengundang Ramadhan sebagai penanggap untuk peluncuran buku ini. ”Yang kami undang adalah tokoh-tokoh organisasi pemuda,” tegas dia. Haris juga menyatakan kecamannya terhadap aksi demonstrasi berbau SARA yang mewarnai pula peluncuran buku tersebut. Salah satu poster yang diusung puluhan demonstran saat itu bertuliskan ‘Made In Katholik’. (Republika Online).

Tinggalkan komentar

Filed under Hari Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s