Faktor-faktor Yang Menyebabkan Perceraian

Banyak pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah pada akhirnya memilih untuk bercerai, tak peduli seberapa besar cinta mereka, kegagalan perkawinan karena beberapa alasan yang tidak sejalan dengan pasangannya.
Sebuah penelitian yang dipimpin Rebecca Kippen dan Bruce Chapman dari The Australian National University dan Peng Yu dari Department of Families, Housing, Community Services and Indigenous Affairs di Australia, meneliti sebanyak  2.500 pasangan menikah dan hidup bersama sejak 2001 hingga 2007, dan berhasil mengidentifikasi faktor yang berpotensi menghancurkan perkawinan :
  1. Ketika usia suami sembilan tahun lebih tua (atau lebih) dibandingkan usia istri, potensi cerai menjadi dua kali lebih besar dibandingkan pasangan yang usianya tidak terpaut jauh.
  2. Lelaki yang menikah sebelum usia 25 tahun berpotensi cerai dua kali lebih besar dibandingkan lelaki yang menikah di usia lebih tua.
  3. Sebanyak 20% pasangan yang memiliki anak sebelum menikah–baik dari hubungan yang sekarang atau hubungan sebelumnya–mengalami perceraian atau berpisah. Sebaliknya, hanya 9% pasangan yang memiliki anak setelah pernikahan yang kemudian bercerai atau berpisah. Jumlah anak yang dimiliki tidak berpengaruh terhadap tingkat perceraian.
  4. Perkawinan lebih mungkin hancur apabila pihak perempuan lebih menginginkan memiliki keturunan dibandingkan pasangannya.
  5. Sebanyak 16% pasangan yang memiliki orang tua bercerai mengalami masalah perkawinan yang sama. Sementara itu, hanya 10% pasangan yang orang tuanya tidak mengalami perceraian justru bercerai.
  6. Ketika pernikahan itu merupakan pengalaman kedua atau ketiga kalinya bagi salah satu pihak,  pasangan tersebut memiliki risiko perceraian sebesar 90% dibandingkan pasangan yang keduanya baru sekali itu menikah.
  7. Sebanyak 16% pasangan yang mengidentifikasikan dirinya miskin atau sang suami tidak memiliki pekerjaan, berakhir dengan perceraian atau berpisah. Sedangkan hanya 9% pasangan yang memiliki kondisi finansial baik bercerai. Status pekerjaan istri tidak berpengaruh terhadap stabilitas perkawinan.
  8. Jika salah satu pihak merokok, sementara pihak yang lain tidak merokok, perkawinan tersebut lebih berisiko menemui kegagalan dibandingkan perkawinan di mana kedua orangnya tidak merokok atau sama-sama merokok

Tinggalkan komentar

Filed under Pendidikan Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s