Ini Dia 12 Pria Gokil Dari Jepang

Pertunjukan boneka tangan bertajuk Rotten Street itu kocak betul. Sebuah boneka bermain tebak huruf dengan para penari. Setiap boneka itu mengeluarkan gambar abjad, para penari akan memperagakannya secara fisik. Huruf A: seorang penari menirukan gerakan anjing. Huruf B: seorang penari berlagak mirip banci. Huruf C: penari berjongkok dan mengibaskan tangan kirinya ke arah bawah untuk menggambarkan cebok.
Huruf M: seorang penari lalu mendadak kemayu sembari mengucap, “Manohara”. Huruf Z: beberapa penari membawa dua bulatan bola kecil berwarna merah, lalu memasangkannya di sekitar selangkangan mereka. Penonton tertawa terbahak ketika mereka mengucapkan kata “ini zakar”.
Itulah pertunjukan Condors Dance: Conquest of the Galaxy: Mars di Teater Salihara, Jumat dan Sabtu pekan lalu. Kelompok tari kontemporer dari Jepang pimpinan koreografer Ryohei Kondo itu dalam pertunjukannya selalu menyelipkan guyonan lokal. Untuk pertunjukannya kali ini, mereka juga belajar secara kilat beberapa kosakata populer Indonesia. “Saya tak tahu siapa Manohara itu… hahaha,” kata penari yang memerankan Manohara sembari tertawa ketika ditemui di belakang panggung. “Kami hanya butuh sehari untuk mengadaptasi lelucon lokal ini,” kata Kondo..
Condors Dance beberapa tahun lalu pernah pentas di Graha Bhakti Budaya membawakan Conquest of the Galaxi: Jupiter. Seperti penampilan sebelumnya, Condors kini masih memamerkan konsep yang sama. Menggabungkan tampilan layar pendek, animasi film, dan tarian-tarian dengan sekuel cerita yang bermacam tema. Penampilan kali ini dibuka dengan slide parodi pembuka produksi film komersial Columbia Picture’s. Tetapi si tokoh yang membawa obor bukan lagi patung Liberty, melainkan diganti oleh salah seorang penari Condors berambut gundul, Kojiro Yamamoto. Kojiro tampak lucu karena selain tersenyum lebar, ia juga mengedipkan mata tatkala musik pengiringnya usai.
Selama kurang-lebih 90 menit, Condors menampilkan beberapa tarian yang energetik, sangat bersemangat. Semua tariannya menggambarkan sekuel-sekuel cerita pendek yang mengkarikaturkan kebudayaan pop. Condor menggabungkan semua jenis tari modern. “Kami tidak menari dengan satu jenis tarian saja. Semua jenis dikolaborasikan,” ujar Kondo.
Tak mengherankan jika penampilan 12 penari Condors yang seluruhnya laki-laki ini berkali-kali membuat penonton terkejut. Ulah mereka betul-betul sableng, sinting. Gagasan mereka liar, nakal, kadang jorok, tapi penuh ketidakterdugaan. Sesekali gerak mereka misal bernuansa balet, sesekali tarian pom pom girl, sesekali ala Michael Jackson. Mereka berubah-ubah penampilan, dari atlet senam sampai waria, dengan wig-wig beraneka warna. Mereka juga rileks menggabungkan layar video, layar kertas, dan musik rock.
 
Tiba-tiba di panggung misalnya muncul boneka kertas bayangan yang dimainkan di balik layar. Bercerita tentang persahabatan gajah dan jerapah. Gajah memperkenalkan diri sebagai binatang yang memiliki belalai. Dalam keadaan tertentu, belalai gajah bisa saja menjadi besar dan panjang. Ia memperagakan fungsi belalai itu kepada si jerapah. Penonton dibuat terpingkal-pingkal karena aksi sang gajah yang memasukkan belalainya tepat di pantat jerapah. Sembari sang dalang mengatakan, “Sang gajah ternyata horny dan konak.” Tak menjerit, si jerapah hanya mengangguk-angguk.
 
Beberapa bagian cerita seperti mirip dengan tayangan reality show berseri, yang ditayangkan televisi Jepang, yaitu Mascurate. Seperti pada lakon tarian yang bercerita tentang selancar dengan mengambil latar pantai. Visualisasi ombak dan peselancarnya sangat mirip dengan tayangan reality show itu. “Memang sedikit mirip, tetapi kami tidak mencontoh mereka,” ujar Kondo.
Bagian terkonyol ketika mereka menampilkan permainan astronot-astronotan untuk menaklukkan Mars itu. Dua penari menjadi astronot. Mengandaikan tubuhnya melayang-layang akibat Mars yang tak memiliki gravitasi seperti bumi, tubuh mereka diangkat terbalik oleh rekannya. Dalam keadaan kepala di bawah dan kepala di atas itu, mereka lalu minum Coca-Cola dan makan mi instan yang masih mengepul-ngepul panas dengan sumpit.
Mi belepotan di mulut mereka. Alamak, gokil banget! Tapi adegan ini menjadi kritik yang mengena atas budaya pop. Adegan ini mampu mengejek bagaimana Coca-Cola dan mi instan kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jepang dan Indonesia sehari-hari. Bahkan, andaikata menjejakkan kaki di planet lain, kita masih butuh Coca-Cola dan mi instan.Penonton terbahak. Condor malam itu mampu membuat perbuatan-perbuatan banal dan sepele bisa menjadi bahan artistik tari yang maut.

Tinggalkan komentar

Filed under Selebritis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s