Antara Harapan dan Kenyataan : Seratus Hari Yang (Tak) Bisa Dipahami

The best public policy is made when you are listening to people who are going to be impacted.” (Elizabeth Dole)

Genap seratus hari Susilo Bambang Yudhoyono berada di kursi presiden. Dalam sejarah, seratus hari sebagai acuan waktu kinerja pemerintahan dipelopori Franklin D. Roosevelt (FDR) pada 1933. Meski saat itu Amerika sedang dilanda depresi ekonomi, FDR lantang menyatakan seratus hari sebagai pertaruhan kredibilitasnya selaku orang nomor satu Negeri Paman Sam.

Sejak itulah pemerintahan-pemerintahan di banyak negara juga menjadikan kinerja seratus hari sebagai tolok ukur kemampuan mereka mengelola kehidupan negara mereka. FDR sendiri dikenal sebagai presiden yang gemilang memanfaatkan seratus hari pertamanya dengan memberikan model kepemimpinan yang gagah perkasa. Presiden Amerika Serikat lain, Harry Truman, pasca-melewati seratus hari pertamanya, tercatat sebagai kepala negara dengan kecerdasan dan ketegasan dalam mengambil keputusan. Ada pula Lyndon Johnson; dalam kurun tiga bulan sejak dilantik sebagai presiden, Johnson sibuk dengan upaya untuk keluar dari balik bayang-bayang ketenaran presiden John F. Kennedy.

Barack Obama lain lagi. Setelah gegap-gempita didapuk sebagai presiden dan diimmpikan sebagai presiden termasyhur Amerika Serikat, tak sedikit kalangan justru menilai Obama sebagai presiden pertama di negeri kampiun demokrasi itu yang telah gagal total sejak seratus hari pertama pemerintahannya.

Lantas, apa sesungguhnya kunci kepala negara agar berhasil pada seratus hari pertama sejak berkuasa? Para pemerhati dunia politik umumnya berpendapat sama: kemampuan si kepala negara mempertahankan momentum kepercayaan publik serta kesigapannya membangun kemitraan yang solid dengan parlemen adalah dua target yang harus direalisasikan selekasnya.

Nah, dengan kedua unsur tadi, mari kita ukur derajat keberhasilan pemerintahan SBY dalam kurun seratus hari pertamanya. Unsur pertama, kemitraan yang padu dengan DPR. Jika skandal Bank Century kita jadikan acuan, SBY tampaknya berhasil menciptakan relasi positif, mengingat sebagian besar fraksi atau partai politik yang duduk di DPR telah terbuka menyatakan penerimaan mereka terhadap kebijakan bail out Bank Century. Itu berarti, sikap sebagian parpol di DPR adalah sebangun dengan sikap SBY.

Selanjutnya unsur kedua, mampu atau tidaknya SBY mempertahankan kepercayaan masyarakat. Di sini problem seriusnya. Gelombang penolakan publik terhadap kebijakan talangan Bank Century, juga menyeruaknya wacana pemakzulan SBY, kentara menunjukkan betapa modal politik SBY saat ini tidak lagi segemuk sebelumnya. Jadi skor kesuksesan dan kegagalan seratus hari SBY adalah fifty-fifty. Seri. Tinggal lagi mana yang benar-benar representatif: wakil rakyat yang berada di fraksi-fraksi DPR ataukah wakil rakyat alias parlemen jalanan yang di hari-hari ini turun ke jalan?

Resisten Elitis

“Saya bertanya apakah kita semua sudah tahu benar apa saja program 100 Hari itu. Saya khawatir dengan yang melakukan kecaman-kecaman itu,” demikian pernyataan presiden SBY dari atas podium kemarin di Banten. Pada saat yang sama, di ruas-ruas jalan di banyak daerah, masyarakat tumpah ruah dengan satu suara: kecewa terhadap pemerintahan SBY-Boediono. Bahkan, tidak sedikit yang lebih lugas mengutarakan desakan agar SBY-Boediono turun jabatan.

Kita pertama tampaknya harus berlapang dada, karena dugaan SBY benar adanya. Tidak semua dari kita tahu benar tentang 15 prioritas, 45 program kerja, dan 129 langkah aksi yang termasuk dalam program kerja 100 hari pertama pemerintahan SBY. Tapi, keraguan SBY akan pemahaman kita itu sebenarnya berbalik ke diri SBY sendiri.

Ketidaktahuan kita secara utuh akan program kerja 100 hari SBY menandakan ada yang salah pada manajemen komunikasi rezim SBY. Padahal, delapan puluh persen waktu yang dipakai oleh pemimpin adalah untuk berkomunikasi dengan stakeholders. Jadi, jangan salahkah publik apabila mereka tidak pernah mendengar rincian program kerja SBY, karena toh tanggung jawab untuk mendiseminasi informasi ke masyarakat berada di tangan pemerintahan SBY sendiri.

Berulang kali kita utarakan betapa kita sering berkerut dahi menyimak penuturan SBY dan para menterinya. Paparannya tentang program pemerintahan kerap terdengar begitu normatif. Padahal—ambil contoh—bicara tentang pensejahteraan rakyat, SBY dan jajarannya seharusnya berbicara dengan langgam rakyat kebanyakan pula.

Bahkan andaikan benar klaim SBY bahwa program kerja 100 harinya berlangsung mulus, SBY tetap perlu berintrospeksi diri, karena pada kenyataannya masyarakat luas justru merasa lebih dikecewakan olehangka-angka fantastis yang muncul dari—katakanlah—pengadaan mobil mewah bagi menteri, rencana pemugaran taman makam pahlawan, renovasi pagar istana, dan pembelian pesawat kepresidenan.

Di atas segalanya, skeptisisme SBY terhadap pemahaman masyarakat akan program kerja 100 hari pertamanya sungguh-sungguh tidak menumbuhkan semangat pada diri kita untuk lebih dekat, lebih yakin, dan lebih kompak mendukung agenda kerja pemerintah. Sikap resisten elitis yang terpancar semakin kentara dari langgam komunikasi SBY justru membuat jarak psikologis kita kian lebar dengannya. Dengan jarak psikologis seperti ini, sungguh kita bertanya-tanya, ke depan-setelah aksi demonstrasi pekan kemarin-realistiskah kita berharap akan membaiknya kinerja pemerintah dan menghangatnya relasi pemerintah dan rakyat

Terkenang kita pada retorika penulis buku-buku kepemimpinan, James Kouzes dan Barry Posner, “There’s nothing more demoralizing than a leader who can’t clearly articulate why we’re doing what we’re doing.” Tidak ada yang lebih membuat kita patah semangat selain pemimpin yang tak mampu menjelaskan secara jernih apa yang kita kerjakan dan mengapa itu kita lakukan.

Reza Indragiri Amriel
Penulis adalah alumnus The University of Melbourne dan kini mengajar di Universitas Bina Nusantara, Jakarta.
(source : Liputan 6)

Tinggalkan komentar

Filed under Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s