9 Februari : Masih Perlukah Surat Kabar di Era Informasi Digital

Kehadiran media online telah memberikan perubahan luar biasa dalam mengakses berita dan informasi bagi masyarakat luas. Kini, dengan mengklik sebuah website (Newspaper Directory) saya bisa akses ke puluhan ribu surat kabar online yang terbit di 400 kota di seluruh dunia. Tapi, apakah saya akan meninggalkan surat kabar?
Perubahan itu, bisa tergambar dengan jelas dari pengalaman saya sendiri (tentu terbatas dalam pekerjaan kami sebagai penulis dan bekas wartawan). Periode 1990-1992, membaca media asing di Medan adalah sebuah hal yang masih sulit. Selain karena jumlahnya terbatas, harganya juga relatif mahal.
Saat itu saya reporter daerah untuk Majalah Berita Ekonomi Prospek di Biro Medan dengan wilayah liputan berita Sumut-Aceh. Sebuah kenangan betapa sulitnya bisa membaca media asing secara rutin. Bang Sudin Purba (almarhum), Kepala Biro kami ketika itu adalah seorang bekas wartawan kantor berita Jepang, Nike. Sebagai seorang bekas wartawan media asing, bang Sudin berlangganan majalah Far Eastern Economic Review dan majalah Time, serta harian Asia Wall Street Journal.
Saat itulah pertama kalinya saya melihat dan membaca media asing. Bang Sudin harus membaca terlebih dahulu seluruh media itu sebelum bisa dibaca yang lain. Saya harus menunggu giliran, kadang berjam-jam.
Mendapatkan majalah seperti itu harus berlangganan bulanan. Artinya, meskipun beritanya tidak cocok dengan kebutuhan kita, tidak bisa menolak. Selain itu, media seperti itu bisa melalui satu agen. Hanya dijual toko-toko khusus pula, tidak ada di kios-kios pinggir jalan. Harganya, relatif lebih mahal dibanding media nasional. Jadi, kalau orang seperti saya ketika itu, jelas tidak mampu membayarnya.
Sekarang, media seperti yang disebut di atas, bisa saya peroleh secara gratis, tanpa harus tergantung pada bos saya yang membayar, tanpa menunggu giliran, saya bisa baca kapan saja saya mau (yang penting listrik tidak mati dan langganan internet saya bayar).
Era Digital
Di era digital ini, terjadi perubahan besar dalam mendapatkan berita. Saya bebas mengakses media online sebuah majalah, surat kabar; apakah itu terbit di luar negeri atau di kota-kota di Indonesia. Dulu, tidak mungkin rasanya berlangganan koran Komentar dari Manado, dengan jarak yang begitu jauh.
Kini, dari rumah saya melalui komputer yang tersambung dengan MODEM ke telepon. Bahkan teman-teman saya pada saat yang sama sudah bisa memperolehnya dengan cara yang lebih modern lagi.
Dengan mengakses website http://www.onlinenewspapers.com/., saya bisa masuk ke The Wall Street Journal, Time, Far Easten Economic Review. Tanpa membayar ke media atau agen media yang bersangkutan. Hanya membayar biaya internet yang relatif semakin murah.
Secara rutin, saya mengakses website yang menyebut dirinya sebagai The No 1 Newspaper Directory itu. Melalui website ini, saya bisa menjelajah ribuan surat kabar di berbagai belahan dunia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia Pacifik, Asia Tenggara, Amerika Tengah, Afrika. Melalui website ini, saya juga bisa menjelajah Indonesia dengan berselancar ke berbagai media online puluhan media yang terbit di berbagai kota di tanah air.
Saya bisa berkunjung ke harian lokal di kota Davao City, Mindanao, Pilippina. Saya klik http://www.mindanaotimes.net/. Oh, Presiden Arroyo berkunjung ke sana. Berita dan gambar Arroyo sudah terpampang di headline surat kabar itu. Saya bisa mengetahui berita yang dilansir sebuah surat kabar yang terbit di sebuah kota di negara bagian Alabama di Amerika Serikat hanya dengan melakukan klik ke http://www.topix. net.
Andaikata saya ingin tau apa yang terjadi di Qatar, Timur Tengah, klik http://english.aljazeera.net/. Peristiwa yang lagi hangat di Haiti, klik http://www.lenouvelliste.com/, maka sebuah sebuah surat kabar berbahasa Perancis Haiti yang sudah terbit sejak 1898 telah menyediakan berita tentang gempa dan gambar-gambar yang menyentuh.
Kalau saya ingin tau berita tanah air, maka tanpa keluar rumah, klik website-website surat kabar (sudah ada di direktori itu), saya serasa berkunjung ke Kupang, Bangka Belitung, Palembang, Makasar, Manado dan tempat-tempat lain di Indonesia. Lokasi-lokasi yang belum pernah saya kunjungi, seolah tampil di depan saya di media online.
Dari satu website yang sudah menghimpun puluhan ribu surat kabar online yang terbit di 400 kota penting di dunia ini. Saya bisa akses ke surat kabar-surat kabar online yang terbit lokal diberbagai negara, bahkan media yang seumur hidup belum pernah mendengar, apalagi membacanya.
Walaupun saya berada di Simalingkar, dengan memanfaatkan jasa internet saya memiliki peluang akses yang sama dengan orang yang berada di Kupang, Davao, atau di Qatar, Timur Tengah, melalui media online dapat mengikuti berita yang sama. Sebuah loncatan yang luar biasa, kalau saya bandingkan dengan suasana dua puluh tahun lalu.
Apakah ketika saya sudah mampu mengakses media online, saya meninggalkan surat kabar?. Jawabnya jelas tidak!. Perlu dicatat, bahwa tidak semua berita, kemudahan dan kenyamanan yang saya dapatkan ketika membaca media cetak bisa saya peroleh di media online.
Media online tidak memberitakan selengkap media cetak. Satu contoh kecil. Saya tidak melihat sebuah iklan baris penjualan sepeda motor, iklan berita dukacita, serta beberapa hal yang saya perlukan di mediaonline www. analisadaily.com.
Saya tidak bisa membolak-balik halaman media online, secepat di media cetak. Saya tidak bisa membaca dengan nyaman sebuah media online di dalam mobil atau ketika duduk di ruang tunggu Bandara Polonia.
Selain itu, menggunakan media online, sebenarnya juga tidak gratis, saya harus membayar biaya internet. Jadi, menggunakan media online membutuhkan biaya yang harus menjadi pertimbangan penggunanya.
Berbagai perdebatan soal kehadiran media online dikaitkan dengan masa depan media cetak masih terus berlangsung. Sebagian cenderung melihat bahwa bila seseorang yang mengakses berita melalui media online akan meninggalkan surat kabar, sama seperti ketika saya bekerja di telekomunikasi, kekhawatiran handphone menjadi saingan bagi fixed line.
Inovasi dan Teknologi
Bacalah sebuah artikel yang ditulis Eric Schmid berjudul “How Google Can Help Newspapers di http://online.wsj.com/article, Januari 2010. Dia mengatakan: “Saya jelas tidak percaya bahwa Internet akan berarti berita kematian. Melalui inovasi dan teknologi, dapat bertahan dengan rasa profitabilitas dan vitalitas. Video tidak membunuh bintang radio. Kehadirannya menciptakan industri tambahan baru,” demikian Eric Schmidt, Ketua dan CEO Google Inc. Saya lebih setuju dengan pendapat ini.
Keyakinan saya bertambah saat mengamati suasana sebuah kedai di kampung (belum terakses internet), pada suatu hari pertengahan Januari 2010. Betapa surat kabar sejak dulu mendapat gempuran, tetapi tidak sampai menyurutkan pasar surat kabar, bahkan cenderung meningkat.
Di kedai kopi itu terlihat sekitar dua puluhan orang secara bergantian membaca sebuah koran terbitan Medan. Akibat seringnya dibolak-balik, koran tersebut sudah kumal. Masih dibaca, meski sebagian sudah kena tumpahan kopi, dan foto wajah mulus seorang artis di halaman depan juga sebagian sudah berubah jadi hitam.
Menunggu giliran membaca, sebagian pelanggan kedai mendengar suara merdu seorang perempuan dari radio lokal yang menyiarkan berita diselingi lagu-lagu daerah. Ada juga yang minum sambil menonton televisi siaran langsung Persidangan Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, berita gempa di Haiti, kasus bank Century dan lain-lain. Saat tertentu orang butuh radio, saat tertentu orang butuh televisi.
Saya tertarik pada minat mereka membaca koran, walaupun harus antri. Kebiasaan seperti itu sudah terjadi sejak kami masih anak-anak di era 1970-an, dimana sumber informasi satu-satunya adalah beberapa radio transistor 2 Band—yang didengar bersama lima sampai sepuluh orang. Bayangkan, kalau ada pertandingan PSMS Medan melawan Burma meski hanya laporan pandangan mata, penontonnya bisa sampai 20 orang. Sebagian penduduk membaca surat kabar sekali seminggu. Kami sendiri membaca surat kabar ketika ayah saya membeli koran pada hari pekan. Televisi jelas belum ada.
Ketertarikan pelanggan kedai kopi membaca surat kabar masih tetap, bahkan meningkat. Puluhan tahun kemudian, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, radio, dan televisi, kebutuhan membaca koran tetap tidak menurun. Koran yang sama, yang saya baca di era 70-an, masih bertahan hingga sekarang. Bahkan sudah bertumbuh dengan terbitnya beberapa media yang lain.
Digempur siaran radio yang meningkat, hiburan tape recorder, puluhan televisi swasta yang menjangkau siaran sampai ke desa itu, malah yang terjadi adalah bertambahnya jumlah dan jenis koran yang menjangkau desa.
Memang, perlu dicermati dengan baik kehadiran media online khususnya bagi perkembangan surat kabar cetak hingga Januari 2010 ini, beberapa artikel di http://online.wsj.com/article dan beberapa ahli di Indonesia soal ini.
Apakah penyebab bangkrutnya beberapa media di Amerika atau Eropa, apakah media cetak akan mati karena media online. Jawabnya masih dalam perdebatan. Kita tunggu saja sejarah akan menjawabnya.
Sebuah pendapat optimis mengatakan bahwa media cetak terbukti memiliki hal-hal khusus yang tidak dimiliki web atau media online. Selain ciri khas yang tidak mungkin terdapat di media online, ada hal khusus, “Saya bisa membolak-balik halaman jauh lebih cepat dalam edisi fisik Journal daripada saya dapat di Web,”ujar Eric Schmid, CEO Google.
Seorang wartawati senior Herawati BM Diah secara optimis mengatakan bahwa media cetak masih memiliki peluang pasar yang besar di Indonesia. “Peluang media cetak masih besar untuk tetap bertahan, tetapi harus kreatif dan inovatif agar bacaan yang disuguhkan kepada masyarakat berbeda dengan yang disuguhkan mediaonline. Masih banyak masyarakat yang puas melihat isi koran atau media secara fisik,” (Waspada, 27 Januari 2010).
Meski saya sudah membaca media online, saya masih membaca surat kabar! Tetapi jelas, surat kabar yang saya baca harus memiliki “Data akurat, cepat sampai ke tangan pembaca dan terbit teratur dan memuat tulisan yang kreatif dan inovatif”!

Terakhir kalau Anda ingin copy paste kasih link back buat blog ini yach (etika copy paste) dan jika Anda menginginkan Update Artikel maupun Informasi dari Blog ini silahkan klik disini 

Jennerson Girsang
Penulis ádalah Mantan Wartawan Majalah Prospek, menulis beberapa buku Biografi, serta mengamati perkembangan internet dan media.

Tinggalkan komentar

Filed under Hari Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s