Tradisi Lontong Cap Gomeh

Perayaan Cap Go Meh dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan dirayakan sebagai Festival Lampion. Di Asia Tenggara  dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut – suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia, begitu pula di Indonesia Tradisi Cap Gomeh di rayakan besa-besaran di daerah Singkawang dan Makasar.
Seperti kebiasaan setiap pesta perayaan pada umumnya, makanan istimewa selalu dihidangkan dan di Indonesia, tradisi lokal telah mewarnai perayaan tersebut dengan munculnya sajian Lontong Cap Go Meh. Lontong Cap Go Meh adalah nama santapan yang terdiri atas potongan lontong dengan kuah lodeh, opor ayam, sambal goreng ati-ampla dan telur rebus lengkap dengan sambal dan krupuknya.
Menilik namanya, olahan tradisional ini sering dikaitkan dengan perayaan hari ke-15 Imlek atau perayaan Cap Go Meh, meskipun banyak orang keturunan China yang mengatakan bahwa keduanya tidak mempunyai kaitan apa-apa.
Tradisi Sincia atau perayaan tahun baru China, berakhir pada hari ke-15, selalu bertepatan dengan bulan purnama karena tahun baru Imlek adalah tanggal 1 dengan sistem kalender bulan. Pada saat itu masyarakat yang masih menganut tradisi Imlek mengunjungi klenteng untuk berdoa dan meminta para dewa untuk mengawal hidup mereka pada tahun yang sedang berjalan.
Lontong cap go meh memang tidak beda dengan ketupat sayur yang biasa disantap pada lebaran Idul Fitri oleh sebagian besar warga Indonesia atau menjadi hidangan “lebaran ketupat” yaitu seminggu setelah Idul Fitri seperti yang diikuti oleh sebagian masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Pembauran
Masakan ini disebut-sebut sebagai bentuk pembauran warga keturunan China dengan warga pribumi, karena menggabungkan unsur masakan tradisional dengan tradisi China termasuk memakai nama Cap Go Meh.  Mengenai peran masakan ini dalam kesatuan bangsa dan pembaruan, tak kurang tercermin dari pernyataan orang nomor satu di Indonesia saat ini.
Lontong itu khas Indonesia. Cap Go Meh bagian perayaan imlek. Dihidangkan di hari ke-15 Imlek. Ini bukti menyatunya kebudayaan Indonesia dan Tiongkok,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika mengucapkan sambutan pada perayaan Imlek Nasional di Jakarta di hall A, gedung PRJ, 27 Februari 2007.
Pernyataan Presiden Yudhoyono itu disambut gemuruh suara massa yang memadati Hall A gedung PRJ tempat perayaan Imlek Nasional berlangsung.
Beberapa laman tentang masakan atau budaya peranakan juga menegaskan asal muasal masuknya nama Cap Go Meh pada penganan lontong ini yang terjuwud berkat jasa para nyonya peranakan China. Para nyonya peranakan itulah yang dianggap berjasa mengangkat masakan tradisional Indonesia menjadi olahan khas peranakan.
Olahan ini juga menjadi menu andalan di sejumlah rumah makan yang menyajikan masakan kaum peranakan- resto yang sedang ngetrend tumbuh di Jakarta misalnya Kedai Tiga Nyonya, bahkan juga di rumah makan masakan Indonesia di Denver, Amerika Serikat.

1 Komentar

Filed under Wisata

One response to “Tradisi Lontong Cap Gomeh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s