Cerita ABG 17 Tahun "Tembang Ilalang"

Judul : Tembang Ilalang; Pergolakan Cinta Melawan Tirani
Penulis :
MD. Aminudin
Penerbit : Pro-U Media, Yogyakarta
Cetakan :
I, 2008
Tebal : 512 halaman

Perjalanan kehidupan menghadirkan kisah. Ada kebahagiaan, ada pula kepiluan. Kehidupan memang menampakkan berjuta warna. Episode kisah manusia yang tertuang dalam novel Tembang Ilalang ini menarik disimak. Anak-anak manusia yang hidup dalam episode kelam penjajahan coba dipaparkan. Episode kelam penindasan yang juga melahirkan asa untuk menjemput terang kemerdekaan.

Novel ini bisa dikatakan telah menyejajarkan diri pada deretan novel sejarah yang pernah ditulis di negeri ini. Bukan tanpa alasan karena sejarawan terkemuka pun memberikan apresiasi. A. Adaby Darban, sejarawan dan dosen sejarah UGM, menuturkan, “Tembang Ilalang, sebuah karya sastra yang apik dengan setting dan alur sejarah yang kuat, dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu sosialisasi pengetahuan sejarah.”

Coba telusuri lembar demi lembar novel ini. Kita akan menemukan episode-episode penting dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan. Kondisi dari zaman penjajahan Belanda sampai zaman penjajahan Jepang tersuguhkan dalam cerita heroisme yang memikat. Mungkin memang ada pengetahuan sejarah tersembunyi. Di tengah himpitan penjajahan Belanda dan Jepang, komunisme ternyata menjadi duri dalam daging. Tak hanya mengatur strategi di bawah tanah, komunisme (dalam novel ini sering diistilahkan orang-orang Merah) juga mendompleng kekuasaan penjajah. Di samping itu, anak bangsa sendiri pun menjadi musuh dan tega menginjak-injak harga diri bangsa. Di tengah rintihan pilu akibat penjajahan, ada pengkhianat bangsa yang rela menghamba pada kaum penjajah.

Yang menarik dalam novel ini tentu adalah kisah dua tokoh: Asroel dan Roekmini. Kisah merekalah yang menjadi titik fokus alur cerita novel. Dua sejoli yang terikat pernikahan dan dikarunia seorang anak itu harus menghadapi takdir perpisahan dalam deru perjuangan. Bayangkan, Asroel yang belum genap berbahagia menyaksikan kelahiran anaknya harus berpisah sekian lama. Awalnya Asroel dituduh Blandong telah membunuh istrinya, padahal Blandonglah pembunuh sebenarnya. Blandong, penjahat kampung yang juga termasuk bagian dari orang-orang Merah itu pun meminta bantuan antek Belanda menangkap Asroel. Untuk menjaga keselamatan, Asroel pun meninggalkan Kediri dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain ditemani kawannya Siswohadi. Kapankan Asroel bersua lagi dengan anaknya yang ditinggalkan saat masih bayi? Bayi yang diberi nama Ismail itu telah menginjak remaja 17-an tahun ketika bisa menatap langsung wajah ayahnya.

Ada cerita-cerita seru dalam perjalanan Asroel dari satu tempat ke tempat lain. Tekadnya yang kuat untuk mengusir penjajah tak mengenal surut. Gerakan untuk membebaskan rakyat dari kebodohan terus diupayakan, termasuk membangun kesadaran rakyat untuk melawan Belanda. Asroel juga mengangkat pena dengan menjadi wartawan koran pribumi di zaman penjajahan. Keluar masuk penjara dan penyiksaan menjadi menu yang harus dilalui Asroel. Di zaman penjajahan Jepang, Asroel menjadi panglima sebuah laskar yang beranggotakan ratusan orang. Laskar itu bekerja secara bergerilya berhadapan dengan tentara-tentara Jepang.

Kita sepertinya hanya perlu selekasnya membaca novel ini. Ada kisah pertempuran di Surabaya pada 1945, pun pemberontakan PKI pada 1948. Bagaimana dengan kisah Roekmini, istri Asroel? Ia pernah terpisah dengan Ismail ketika ditawan oleh seorang Belanda. Saat penjajahan Jepang, ia pernah terjebak untuk menjadi joegoen ianfoe. Apakah nasibnya berakhir tragis di tangan tentara Jepang?

Sstt, ada gadis Belanda yang tertarik dengan Asroel, namannya Stientje. Meskipun orang Belanda, Stientje membela kaum pribumi. Menurut rencana, kisah tentang Stientje juga akan dibuat novel. Zoveel (Kabar Indonesia.com)

Tinggalkan komentar

Filed under Khusus 18+

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s