Membentuk Mindset Anak | Mindset Membentuk Prilaku Anak

Mindset terbentuk karena setiap saat pikiran dimasuki oleh sebuah keyakinan yang terus menerus, sampai akhirnya yang terukir dalam benak seseorang adalah keyakinan itu. Kalau yang ditanam terus menerus barang yang salah, ya keyakinan seseorang bisa saja salah, demikian juga sebaliknya.
Bila Anda mempunyai anak, lalu anak itu setiap hari kita bombardir dengan kata-kata: “Kamu ini brengsek, bodoh, bandel, nakal, anak tak berguna,” maka besar kemungkinan anak itu akan menjadi berandalan, pemberontak yang tidak mudah dikendalikan.

Nah, dengan rumus yang sama, mari kita amati apa yang terjadi di negeri ini. Mindset yang ditanamkan dalam benak anak-anak oleh sesepuh dan orangtua kita adalah masyarakat yang lemah lembut, berbudi luhur, menjunjung tinggi sopan santun, ramah, jujur, tidak egois, sebaliknya sangat menghargai orang lain.

Namun, ketika menonton televisi atau membaca di media, mindset yang ditanamkan sungguh berbeda. Dari lima berita yang muncul di televisi, rata-rata dua berita menunjukkan kekerasan. Hampir semua penertiban pedagang berakhir kerusuhan. Pembagian zakat menjadi tragedi. Pengemplang pajak bicara pemberantasan korupsi. Pengosongan rumah diselesaikan pertarungan. Suporter sepakbola menjarah pedagang kecil. Politik menjadi panggung tawar-menawar. Orang jujur dicaci maki. Facebook menjadi penculikan.

Tak heran mindset yang ditanam sejak anak masih kecil adalah tidak mudah menjadi orang baik-baik. Ini salah satu hasilnya. Entah tulus atau direkayasa, beberapa waktu lalu anak sekolah dasar di Kolaka melakukan demonstrasi karena kepala sekolahnya dimutasikan. Mereka menangis tersedu-sedu sambil melakukan orasi. Ada yang berteriak histeris, ada yang menangis sambil berguling-guling di lantai. Dan, aksi terakhir mereka membakar kertas dan spanduk. Sama dengan tontonan “slam dunk” begitulah semua tontonan diruang publik itu memberi pelajaran pada anak-anak bagaimana cara berekspresi melalui demo. Sialnya, demo pun direkayasa. Kalau teriak-teriak saja lima belas ribu, kalau sampai pagar roboh atau anarkis bisa lima puluh sampai seratus ribu.

Lalu, mindset apa yang ingin ditanamkan pada anak-anak Indonesia? Kejujuran, kemunafikan, penipuan, kebaikan, atau rekayasa?. 
Maka tanamkan Mindset hal-hal yang baik, beri pengertian tentang kejujuran, kebaikan, kemunafikan dan penipuan supaya bisa membedakan antara yang benar dan salah. Jangan sampai anak Anda menjadi seorang yang berprilaku buruk dan tidak berguna.

Tinggalkan komentar

Filed under Pendidikan Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s