Secondary Skin Meredam Cahaya Matahari

Secondary skin atau “kulit kedua” pada awalnya merupakan salah satu solusi untuk meminimalisasi intensitas cahaya matahari, terutama matahari sore yang panas agar tidak masuk secara maksimal pada sebuah rumah atau bangunan. Tetapi, pada perkembangannya secondary skin sendiri merupakan salah satu cara untuk merespon kondisi iklim yang semakin panas belakangan ini.
Penasaran dengan “kulit kedua“ di rumah? Tengok saja kediaman sekaligus kantor dari pasangan Irwan Ahmett dan Tita Salina yang dinamai Pori-pori House bisa menjadi inspirasi bagi Anda.
Tak Mengganggu Cahaya
Untuk sebuah bangunan yang digunakan sebagai kantor dan tempat tinggal pada sebuah studio grafis Ahmett Salina ini, arsitek Budi Pradono bisa secara tepat menggunakan ratusan potongan bambu yang disusun secara horizontal pada bagian depan bangunan.
Dengan menggunakan rangka baja sebagai struktur bangunan utamanya beserta jendela kaca yang bisa dibuka tutup, sehingga angin dan udara akan mengalir melalui kulit terluar yaitu secondary skin. Ya, rumah seakan-akan mempunyai pori-pori sebagai sirkulasi udara.
Selain itu, konsep secondary skin seperti ini membuat kegiatan di dalamnya lebih private tanpa mengurangi intensitas cahaya.
Pada bagian luar dibiarkan menjadi tanaman rumput yang cukup luas, agar taman tersebut tidak hanya bisa dinikmati oleh pemilik, tetapi juga oleh tetangga sekitar rumah.
Pas Membagi Area
Layout bagian dalamnya pun bisa diaplikasikan secara maksimal dengan zoning ruangan yang jelas, antara ruang kerja, semi private dan private.
Untuk ruang kerja diletakkan pada bagian bawah setelah membuka pintu utama dari bangunan ini. Kemudian untuk area semi private, terdapat di belakang dari area kerja itu sendiri, yaitu berupa pantry dan ruang makan yang mempunyai konsep terbuka dengan taman belakang.
Sementara untuk area private yaitu tempat tinggal berupa kamar tidur beserta kamar mandi dan ruang nonton terletak di atas.
Uniknya Si Pori-pori
Jika kita melihat secara fisik dari bangunan ini dari dalam, maka akan terlihat struktur utamanya yaitu baja yang diekspos sehingga menjadi elemen estetis yang sangat unik untuk bangunan ini sendiri.
Dengan kulit bangunan berupa pori-pori dari bambu tersebut, maka jika terkena matahari akan menimbulkan efek yang berbeda di dalamnya yaitu berupa bayangan yang dramatis dan tiada duanya.
Secondary fasad pada bagian depan tidak menempel di struktur utamanya sehingga diperlukan space untuk membuka dan menutup kaca yang ada pada keseluruhan bangunan ini. Selain itu space yang berukuran kurang lebih 70 cm tersebut juga agar perawatan bisa lebih mudah dilakukan. Penuh perhitungan, menarik, juga ramah lingkungan!(sumber : Tabloid Nova)

1 Komentar

Filed under Arsitektur

One response to “Secondary Skin Meredam Cahaya Matahari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s