Puisi Pipi Mimi Sindir KD & Raul

Skandal cinta terlarang KD & Raul Lemos ternyata heboh juga di negeri seberang, adalah Linda Djalil wartawan senior Singapura yang menuliskan puisi untuk Kridayanti, puisi tersebut berjudul “Pipi Mimi Bukan Yang Dulu Lagi”, jadi bukan SAY NO to KRISDAYANTI saja yang populer dijagat maya, nampaknya semua orang tertuju terhadap dua sejoli yang lagi kasmaran dibutakan cinta, berikut pusi pipi mimi sindir KD & Raul.

Pipi..Pipi..Ini Mimi…Bukan Mimi yang Dulu Lagi….

Pipi.. Pipi..
Mimi bingung sekarang..
Mengapa banyak mata terbelalak melihat hubungan ini, padahal Mimi hanya ‘sekedar’ ingin cinta-cintaan dan yayang-yayangan…
Dengan lelaki yang Mimi anggap keren dahsyat luar biasa dan kelasnya jauh di atas Pipi…

Pipi.. Pipi.. Mengapa bayaran yang aku terima begitu mahal, sampai menembus langitpun rasanya kelewat mahal, anak sudah tak Mimi punya
Tepuk tangan meriah gemuruh dari depan panggung juga sepi rasanya ke mana mereka..
Menghilang.. Lenyap
Bagai aku diludahi sampai ke bawah tanah..
Maka akupun mengumbar air mata, Pi..
Memohon ampun, maaf tiada tara
Karena aku tak tahu lelaki hebat itu sudah berpunya
Anak berderet, istri menanti
Ah, tapi itu kan memang untuk konsumsi publik, Pi..
Sebab meski segala yang dijual di negeri ini kelewat mahal
Masih ada yang murah..
Ya.. Ya.. Harga diri
Dan rasa malu

Betapa Mimi bisa mudah bersandiwara
Dengan harapan segala lagu bisa dicintai lagi oleh semua manusia
Tapi apakah semudah itu, paduka..
Sebab rasa malu yang murah itu juga sudah menjadi gulita

Pipi.. Pipi.. Rumah sekarang sepi
Lantai marmer cokelat muda yang dulu licin bagai padi bersemi sekarang tak lagi berseri
Gelak tawa canda anak-anak tak terdengar lagi..

Pipi.. Pipi..
Mimi bingung sekali lagi
Betapa bayaran yang harus ditebus mahal sekali
Hati seorang ibu yang terguncang hingga tak kuasa lagi kuat berdiri
Hingga jalanpun harus didorong kursi roda ke sana sini

Tapi bagaimana aku bisa membatasi semua ini, Pi…
Dorongan rasa dan hasrat besar tak terbendung lagi..
Melihat air mata dari seberang sana yang masih mengaku istri
Rasanya hanya butir angin sayup-sayup dan aku sungguh tak perduli..

Pipi.. Pipi..
Wajahku yang cantik dipermak setrika habis ini
Toh masih terlihat jauh lebih cantik dari si rambut panjang yang di samping Pipi menyanyi?
Tapi mengapa menggebunya orang menawar manggung tiap hari
Kepadaku sudah tak mampir lagi…

Pipi.. Pipi..
Aku kadang tertawa di dalam hati
Mampuslah semua orang kutipu dengan hati bernyanyi
Kemarin minta maaf kini mengulangi kembali
Air mata yang dulu bergulir ke pipi
Kini bisa kuganti dengan adegan mesra tempel-tempelan pipi
Sembari mengumbar sebentuk cincin yang melilitt di jari..
Agar dipertontonkan oleh layar televisi dan sengaja, agar gemuruh panas membara dari yang mengaku masih jadi istri kembali wajahnya tak sanggup berseri-seri..

Pipi.. Pipi..
Mimi memang bukan yang dulu lagi
Sekali lagi, bukan Mimi yang dulu lagi..
Sebab aku berhak merebut kebebasan sampai tinggi sekali meluas merebak tanpa berpikir malu seribu kali apalagi mengedepankan nurani..
Ah.., itu kan semua ungkapan basi..

Memikirkan kejujuran dan nurani, gini hareeeee….?

I am sorry goodbye Pipi..
Mimi akan selamanya pergi
Meski diam-diam tak kuhindari rasa sakit hati..
Panik.. Panik sekali..
Kok jadi Pipi sekarang yang ke seluruh pelosok top sekali..
Bersama si rambut panjang yang cantik banget meski tanpa operasi..?
Hi…hiiii…hi….air mata ini kembali bergulir deras sebutir nasi..
Aku sepi Pi…
Sesungguhnya batinku sepi…
Sepi sekali..

Tinggalkan komentar

Filed under Kata-kata Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s